Benci Tapi Diam Diam Selingkuh


Banyak orang berikrar untuk setia pada pasangan, tapi diam-diam selingkuh. Banyak orang berkomitmen untuk menggunakan produk orisinal, tapi diam-diam menikmati hasil pembajakan. Apa itu namanya kalau bukan selingkuh?

Dalam pandangan umum, perilaku itu dinilai buruk. Bahkan dibenci, karena selingkuh berarti khianat, mencuri hati yang lain. Begitu juga dengan menikmati barang bajakan, yang dianggap ikut mencuri karya orang lain.

Selama ini, propaganda anti-selingkuh sangat agresif. Kampanye anti-pembajakan begitu marak. Tapi, tetap saja, perselingkuhan dan penggunaan barang bajakan sama maraknya. Apakah menikmati barang bajakan itu juga indah? Nggak apa-apa asal nggak ketahuan, gitu?

Sama halnya dengan perselingkuhan di dunia asmara, pembajakan dan pemakaian barang bajakan juga terjadi di mana-mana. Di setiap tikungan ada. Misalnya di dunia film, musik, literasi, program komputer, dan sebagainya.

Dan, di setiap tikungan itu pula, banyak orang yang berteriak lantang menentang perselingkuhan maupun pembajakan. Berselingkuh dinilai perbuatan yang hina-dina, sedangkan pembajakan – termasuk menikmati barang bajakan – dianggap sebagai biang kerok yang menghambat kemajuan.

Selain sanksi sosial, pembajakan memiliki konsekuensi hukum, bisa dipidanakan. Selingkuh juga. Lha, kan banyak anggota dewan, aparat, tokoh agama dan masyarakat, yang dilaporkan ke polisi karena dugaan perselingkuhan?

Bedanya, kalau menurut saya, selingkuh itu urusan privat. Kalau pembajakan mencakup urusan publik. Jadi, saya akan bicara yang menyangkut publik. Tapi ya mau bagaimana, kita ribut-ribut pembajakan, namun siapa sih yang nggak tahan menikmati barang bajakan? Begitu kan?

Siapapun di negeri ini, saya rasa pernah membajak atau minimal menikmati hasilnya. Coba anda simak lagi. Misalnya, apakah Windows anda asli? Apakah ada folder-folder mp3 di laptop anda?

Atau, apakah ada serial televisi dari layanan video streaming di laptop anda? Berlangganan langsung atau unduh secara ilegal dari internet? Begitu juga dengan buku-buku. Apakah semuanya beli baru atau versi replikanya?

Kalau kemudian anda menjawab tidak, ya berarti memang sulit untuk sepenuhnya setia dan 100% berkomitmen.

Tapi pembajakan tidak harus selalu disikapi dengan wajah gusar dan gelisah oleh para kreator dan penikmat karya asli. Karena membicarakan tentang pembajakan, harusnya bisa lebih luas dari sekadar hitam dan putih.
Satu hal yang harus dipahami dari pembajakan bahwa itu muncul dari semangat berbagi. Dan, semangat itu muncul, karena pengetahuan dibuat eksklusif, lalu dikomersialkan. Sayangnya, banyak kreator yang gila hormat.

Mereka kepingin banget orang-orang menikmati konten ori. Bahwa satu-satunya cara untuk diapresiasi adalah dengan menikmati konten ori dengan cara yang legal.

Padahal, tidak semua orang bisa beli buku ori, beli CD musik ori, berlangganan layanan video streaming, nonton di bioskop, dan hal-hal yang dianggap sebagai ritus sakral dalam mengapresiasi sang kreator.

Bagi sebagian orang, menikmati pengetahuan sama seperti diam-diam cinta dengan pacar orang. Itu berarti bukannya mereka tidak mau, hanya ada hal-hal yang mendorong untuk cinta kau dan dia. Aiihh…

Dari segi harga, untuk mengapresiasi sebuah karya asli, bisa saja terlalu mahal. Mereka harus memilih apakah sebaiknya mengapresiasi karya dengan memotong anggaran pada bagian lain? Atau, malah menikmatinya secara gratis?

Sejauh ini, di negeri kita tercinta, idiom “mengapa harus bayar kalau bisa gratis” masih berlaku. Entah sampai kapan, karena kesejahteraan masyarakat juga nggak naik-naik.

Jadi, tak perlu menghakimi orang secara berlebihan, karena menikmati barang bajakan. Terlebih, orang yang menghakimi itu ternyata juga pelaku. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana konten atau karya yang orisinal bisa terjangkau oleh umat, dari segi harga maupun distribusi.

Anda tahu Kanye West? Orang macam Kanye West berbusa-busa bilang pembajakan itu buruk, tapi pernah kepergok sedang mengunduh konten ilegal di internet.

Sementara itu, Efek Rumah Kaca punya cara tersendiri. Pada akhir 2015, mereka membagikan album Sinestesia secara gratis ke jagat maya. Salah satu personilnya, Adrian, kemudian berkata, “Selama ini, kami sudah banyak diuntungkan dengan berbagai referensi musik yang didapatkan secara gratis melalui internet.”

Ia pun melanjutkan, “Bila membuka file-file lagu di komputer saya, bisa dibilang sekitar 10% adalah karya musisi dalam negeri yang saya dapatkan dengan membeli CD-nya, sedangkan 90% adalah karya-karya musisi dalam dan luar Indonesia yang saya dapatkan gratis melalui internet. Rasanya, persentase ini cukup signifikan mempengaruhi wawasan musik saya, termasuk yang tertuang pada musik Efek Rumah Kaca.”

Hal ini menandakan bahwa pembajakan memiliki dua sisi mata uang. Selain berdampak buruk, juga memiliki hal yang baik bagi kreator konten. Pembajakan kemudian menghilangkan sekat-sekat pengetahuan bagi mereka yang secara finansial sangat terbatas, tapi sangat ingin berkarya.

Lagipula, tak ada yang benar-benar baru di muka bumi ini dan membuat kita begitu takzim. Bisa saja karya yang kita bayar mahal adalah karya yang sebenarnya hasil selingkuh antara kreator dan konten ilegal tanpa sepengetahuan kita.

Pembajakan juga dapat dilihat sebagai wujud promosi gratis. Orang-orang bisa berbondong-bondong ingin menonton konser musik setelah mengunduh kontennya secara ilegal di internet. Atau, datang ke acara bedah buku, meski diunduh dalam format pdf.

Pembajakan jelas buruk, dan itu melanggar hukum. Yang namanya hukum, pasti melihatnya secara hitam-putih. Tapi, jika kita ingin menghapus pembajakan di dunia ini, semua pihak harus berkaca. Ya produsen, kreator konten, pemerintah, pembajak, termasuk kita semua.

Seperti yang tadi saya bilang, bagaimana caranya konten atau karya orisinal bisa terjangkau oleh umat, dari sisi harga maupun distribusi. Selama itu tak terpenuhi, pembajakan akan tetap ada sampai munculnya Dajjal dan terbitnya matahari dari Barat.

Nah, agar tulisan ini berakhir syahdu, mari kita tutup dengan quote dari junjunganku Ustadz Felix Siauw yang sangat menggelegar ini agar anda sadar bahwa kita semua hanya remah-remah rempeyek di hadapan Tuhan.

“Halal hukumnya memanfaatkan barang-barang bajakan seperti CD, DVD, buku, ataupun media lainnya, karena hak cipta hanyalah milik Allah (all rights reserved only by Allah) dan semua ilmu berasal dari-Nya dan Allah telah mewajibkan kita mencari dan menuntut ilmu.”

Nah kan ?
Previous
Next Post »
0 Komentar